Kumpulan Buku Harian (Bagian 1)

"Setelah ulangan kimia dan semakin yakin bahwa saya ini begitu payah dan hanya bisa menyalahkan keadaan."

"Pilihan hidup saya banyak, terlalu banyak sampai buat pusing dan berliku. Ada pilihan dari orang lain, pilihan orang tua, dan pilihan saya sendiri. Saya bingung mau ambil jalan hidup yang mana. Tapi mati juga bukan solusi."

"Tapi kalau misalnya keluar pun saya gatau mau ngapain. TAU, tapi gatau  diizinin atau tidak. Ah bajingan. Izin selalu halangin saya. Tapi mau gimana lagi. Saya gamau ngecewain orang yang bertahan sama saya sampai sekarang."

"Can't stop asking, when we get out?"

"Kadang juga saya mau jadi anak bebas pada umumnya."

 "Saya merasa hidup disini tak ada artinya. Saya suka teman-teman saya disini. Tapi rutinitas saya kurang. Saya harusny bisa eksplor lebih lagi. Eksistensi hidup saya ga tercapai. Makanya saya merasa kurang berarti"

"Seseorang pernah bilang ke saya, 'kenapa deh kalau menulis selalu tentang hidup yang tidak berarti terus?' saya juga baru sadar saat itu."

"Ustadzah tadi bilang,'kelas 12 begini harusny udah pada ngomongin plan-plan kedepan bagaimana. kalau yang dulu-dulu sih begitu. kalau masih mau ngomongin hal begini berarti masih kekanak-kanakan dan mau main terus.' ya bagaimana ya... Saya punya banyak rencana, tapi mengingat bagaimana orangtua say, rasanya akhir-akhir ini cuma mau bodo amat. Percuma mimpi-mimpi begitu, mikirin mimpi saya cuma bikin sakit hati. Sakit hati mikirin tentang seluruh aturan kehidupan manusia ini. Harus begini, harus begitu. Perempuan harus begini, Nanti bagaimana kalo udah punya anak. Jurusan yang melanggar syariat lingkungannya blablabla. Pertama, mimpi jadi atlet saya tentu sudah mati sejak awal. Kedua, mimpi pemulis saya, saya harus menulis buku yang bukan saya mau. Ketiga, mimpi kuliah keluar negeri eropa san juga hangus karena ayah bilang akan ikutin saya kemanapun. Bagaimana, bagaimana bisa. Mata saya panas membahas hal ini. Saya sensitif masalah begini, ah menetes dari mana air mata saya. hehe"

  

Comments

Popular posts from this blog

Kesedihan Tak Berkesudahan (Bagian 2)

bagian pertama

bayangan