pertahanan hidup

" terkadang saya berpikir, sebenarnya siapa yang saya takuti perihal aturan-aturan agama. saya sadar kalau ternyata saya hanya takut kepada kedua orangtua saya. takut mengecewakan. takut dianggap yang tidak-tidak. takut manusia. suatu hari saya pergi ke jemuran dan tidak sadar bahwa ternyata ada abang-abang di rerumputan sana. tidak memakai jilbab dan pas sadar, yasudah. ternyata saya gapunya perasaan apa-apa. 

dalam hidup saya, alasan " takut mengecewakan orangtua" selalu jadi pertahanan terbaik saya. selalu jadi penyelamat atas perilaku-perilaku buruk. tapi seringkali, saya mau pergi dari alasan itu, karena lelah, karena jenuh, karena mengikat. setidaknya saya merasa lebih baik jika tidak punya alasan apa-apa untuk menjadi taat. atau mungkin teralih ke hal yang lain. "

Tulisan di atas saya tulis di awal tahun 2022. ketika saya masih menjalani pendidikan di pondok pesantren. Hari-hari saat itu terasa tidak berdaya. Saya tidak punya daya hidup, saya sekolah di sekolah islam tapi rasanya saya seperti tidak punya tuhan dan hanya mengikuti arus. Saya sholat karena memang aturan sekolah pada sholat, saya menghafal al-quran karena memang tanggung jawab untuk menyelesaikan studi saya begitu.

Sekarang tahun 2026, saya masih dibayang-bayangi orangtua saya. Saya ribuan kali jatuh-bangun. Mati lalu hidup lagi. Hal yang berbeda adalah saya bisa melawan. Saya bisa melakukan hal-hal yang saya mau. Buruk ataupun baik. Tapi, baik-buruk tau darimana? Baik-buruk kan hanya tentang hal-hal yang dianggap baik-buruk oleh masyarakat. Bagaimana jika hal yang buruk bagi mereka, baik bagi saya. Saya hanya punya rentang satu tahun dimana saya menjadi waras dan bahagia. Sampai orangtua saya menghantui saya lagi.

Sekarang tahun 2026, saya sudah tidak menjadikan alasan "tidak mengecewakan orangtua" sebagai pertahanan kehidupan saya. Karena mereka sudah kecewa. Jadi buat apa masih menjadikan hal tersebut alasan. Kabar buruknya saya tidak punya pertahanan hidup. Saya tidak lagi punya alasan. Saya merdeka secara pemikiran tapi saya tidak merdeka secara aksi. Kayaknya saya masuk neraka. Kalau ada. Saya pusing dengan agama dan ketuhanan ini. 

Comments

Popular posts from this blog

Kesedihan Tak Berkesudahan (Bagian 2)

bagian pertama

bayangan